Arsip Kategori: Motivasi

Mawar Untuk Ibu


Seorang pria berhenti di toko bunga untuk memesan seikat karangan bunga yang akan dipaketkan pada sang ibu yang tinggal sejauh 250 km darinya.

Begitu keluar dari mobilnya, ia melihat seorang gadis kecil berdiri di trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu menanyainya lalu dijawab oleh si gadis kecil. “saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah utuk ibu saya. Tapi saya Cuma punya uang lima ratus saja, sedangkan harga mawar itu 1000

Pria itu tersenyum dan berkata, “ayo ikut ! aku akan membelikanmu bunga yang kamu mau.” Kemudian ia membelikan gadis kecil itu setangkai bunga mawar merah, skalian memesankan karangan bunga untuk dikirim ke ibunya.

Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri untuk mengantar gadis kecil kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil itu melonjak gembira dan berkata, “ ya tentu saja. Maukah anda mengantarkan ke tempat ibu saya?”

Kemudian mereka ber2 menuju ke tempat yang ditunjukkan gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum. Lalu gadis kecil itu meletakkan bunganya pada kuburan yang masih basah.

Melihat itu, hati sang pria itu jadi terharu dan teringat sesuatu. Bergegas ia kembali menuju ke toko bunga tadi dan membatalkan pesanan antarnya. Ia megambil karangan bunga itu dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibunya.

 

 

 

Iklan

Dalam Diam


Diam adalah caraku mencintaimu karena-Nya. Kulakukan untuk menjaga kesucian hatiku dan hatimu karena memang terjaganya kesucianku dan kesucianmu adalah tujuanku.

Ini adalah caraku mengasihimu karena-Nya. Kulakukan untuk memelihara suatu kehormatan, karena memang terpeliharanya kehormatanku dan kehormatanmu adalah cita-citaku.

Jikalau Allah tak menakdirkan tersampaikan indahnya rasa ini kepadamu di dunia ini dalam ridha-Nya, mungkin dunia bukanlah tempat yang tepat bagi cinta untuk saling bersemi. Tapi bisa jadi cinta itu akan bersemi di Surga-Nya. Karena ku sangat yakin, bahwa di akhirat kelak Allah akan menghimpun orang-orang yang saling mencintai karena-Nya. Dan diamku kini adalah caraku mencintaimu karena-Nya. Suci tak tersentuh. Bahkan syaitanpun tak pernah tahu.

Insya Allah…

Jika kau belum siap melangkah lebih jauh dengan seseorang, cukup cintai ia dalam diam.

Karena diammu adalah salah satu bukti cintamu.

Kau ingin muliakan dia dan tidak akan mengajaknya menjalin hubungan terlarang, dengan tidak merusak kesuciannya dan penjagaan hatinya.

Karena diammu akan memuliakan kesucian diri dan kesucian hatimu, serta menghindarkan dirimu dari hal-hal yang akan merusak izzah dan iffahmu.

Karena diammu bukti kesetiaanmu dengannya.

Karena mungkin saja orang yang kau cinta adalah juga orang yang telah Allah Ta’ala pilihkan untukmu.

Ingatkah kalian tentang kisah Fatimah dan Ali, yang keduanya saling memendam apa yang mereka rasakan ? Sampai akhirnya mereka dipertemukan dalam ikatan suci nan indah.

Kisah Wortel, Telur, dan Kopi


Kupunya kutipan motivasi dari majalah Hadila. Coba kita baca dan renungkan

CEKIDOT >>>

Seorang anak mengeluh kepada ayahnya mengenai kehidupannya dan menyanyakan mengapa hidup ini terasa brgitu berat baginya. Ia tidak tau bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah.

Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur, ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya dia atas api. Setelah air di panci – panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di panci pertama, telur di panci kedua, dan bubuk kopi di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata – kata. Si anakpun membungkam dan menunggu dengan tidak sabar. Memikirkan apa yang dikerjakan oleh sang ayah.

Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api. Ia menyisihkan wortel, telur dan kopi ke mangkuk masing-masing. Lalu ia bertanya pada anaknya, “Apa yang kau lihat nak?” “Wortel, telur dan kopi” jawab sang anak. Ayahnya mengajak mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan, bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras. Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi dengan aromanya yang khas.

Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah ?” Ayahnya menerangkan bahwa, ketiganya telah menghadapi “kesulitan” yang sama, melalui proses perebusan, tetapi masing – masing menunjukan reaksi yang berbeda. Wortel, sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.

“Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya ? Apakah kau Wortel, Telur atau kopi ?” Apakah kamu wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu. Atau kamu telur, yang awalnya memiliki hati lembut ? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian, pemecatan maka hatimu menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dangan jiwa dan hati yang kaku ? Ataukah kamu adalah kopi bubuk ? Kopi bubuk merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100⁰C. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi teras semakin nikmat.”

Si anak pun terdiam. Sejenak kemudian si ayah kembali melanjutkan ceritanya. “Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin baik dan membuat keadaan sekitarmu juga membaik.” Si anak pun akhirnya mendapatkan pelajaran yang berharga dari ayahnya. Dengan penuh suka cita si anak memeluk ayahnya yang telah memberi motivasi padanya melalui perumpamaan wortel, telur, dan kopi.